Home Kasus
Bersatunya Kembali Kelompok Organisasi Wartawan, Keranda Mayat Naik ke Lt.8 Sekretariat Dewan Pers

Oleh SPB - 04 July 2018 23:11:31



JAKARTA, SPB – kasus penganiayaan dan kekerasan secara fisik yang dialami wartawan di Indonesia memang kerap terjadi, akan tetapi beberapa tahun terakhir kehajatan kepada wartawan dilakukan secara masif dengan memanfaatkan kekuasaan kepolisian dan lemahnya para pengurus Dewan Pers saat ini.

Salah satu yang paling berdampak saat ini adalah kematian wartawan Muhamad Yusuf (42) seorang wartawan media cetak dan online yang menghembuskan nafas terakhir pada tahanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kotabaru, Minggu, 10 Juni, lalu.

(foto: Ketua Umum, PPWI Wilson Lalengke saat orasi)

MY (singkatan nama Muhamad Yusuf) diproses hukum atas tuduhan memprovokasi, menghasut, dan mencemarkan nama baik karena pemberitaan yang dibuatnya. Ia dijerat pasal 45A UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Ancaman hukumannya penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp1 miliar.

Diketahui pemberitaan-pemberitaan yang dibuat MY di beberapa media online adalah tentang penggusuran warga masyarakat oleh satu perusahaan swasta perkebunan sawit joint dengan perusahaan milik pemerintah yang membuka perkebunan sawit secara besar-besaran di daerah Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Diketahui juga, perwakilan masyarakat yang digusur tersebut merasa diberlakukan dengan semena-mena dan tidak manusiawi, hingga akhirnya mengadukan juga nasib mereka ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta. Sebelumnya masyarakat meminta pertolongan dan mengadu ke polisi setempat, bupati, DPRD kabupaten, hingga ke DPRD provinsi namun tidak berhasil.

Peristiwa kematian MY itu menjadi viral hingga saat ini, termasuk organisasi-organisasi kewartawanan terpanggil untuk bersatu dan menentang peristiwa yang dialami MY. Gabungan organisasi wartawan yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Wartawan, Rabu, 04 Juli 2018, menggelar aksi “penyerahan keranda mayat ke Sekretariat Dewan Pers” sebagai pertanda bahwa Dewan Pers turut andil dalam kematian mengenaskan yang dialami wartawan MY.

(foto: terlihat Ketua FPII, Bunda Kasihati yang menyuarakan Jurnalis bukan Kriminal).

Aksi Solidaritas Wartawan yang berjumlah ratusan ini diklaim banyak pihak sebagai tonggak awal bersatunya kembali kekuatan Pers sejak masa reformasi tahun 1998 dengan wajah baru.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI), Suriyanto PD, SH, MH, MKn yang terlihat turun dalam aksi itu menggelorakan hastag: #JANGAN GANGGU KEDAULATAN PERS”, menjadi gaung kuat bahwa Pers itu mempunyai kedaulatan yang tidak bisa dirusak oleh pihak manapun.

Saat dikonfirmasi, Suriyanto menerangkan kepada wartawan bahwa permintaan aksi ini adalah untuk mendorong kematian MY menjadi Kejahatan Kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa dalam aksi ini, adalah bentuk keprihatinan terhadap kebijakan Dewan Pers yang turut menghantarkan wartawan MY kepada kematiannya.

Keranda mayat yang dibawa langsung ke lantai 8 Gedung Dewan Pers tempat pengurus-pengurus atau punggawa Dewan Pers bekerja sebagai simbolik agar mereka (pengurus-pengurus Dewan Pers) khususnya Yoseph Adi sebagai Ketua Dewan Pers saat ini sadar bahwa mereka telah “membunuh” wartawan, ungkapnya.

(foto: Ketua Umum PWRI, Suriyanto PD, SH, MH, MKn bersama tim PWRI)

Suriyanto menerangkan bahwa aksi kali ini belum selesai, karena perjuangannya adalah mendorong untuk menjadikan kematian wartawan MY adalah kejahatan kemanusiaan.

Peristiwa yang dialami MY di Kotabaru itu masuk kategori Kejahatan-kejahatan terhadap perikemanusiaan sebagaimana yang dimaksud dalam Internasional Criminal Court (ICC) dan pasal 7 Statuta Roma yang menyebut kejahatan kemanusiaan, diantaranya adalah serangan yang meluas atau sistematik yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil dengan tujuan Pembunuhan, Perampasan kemerdekaan/perampasan kebebasan fisik lain dan atau perbuatan lainnya yang tak berperikemanusiaan yang dilakukan secara sengaja sehingga mengakibatkan penderitaan, luka parah baik tubuh maupun mental ataupun kesehatan fisiknya, terang Suriyanto.

Disaat yang sama, kordinator aksi yang membawa gerbong keluarga besar Sinar Pagi Baru (media cetak) dimana tempat wartawan MY tercatat sebagai kepala perwakilan Kabupaten Kotabaru, Rinaldo menyampaikan kegembiraan ditengah kesedihannya.

(foto: Ozzy Sulaiman, Sekjen Majelis Pers)

Ia mengucapkan terima kasih kepada semua kawan-kawan organisasi wartawan yang mau bersatu untuk menghantarkan keranda mayat, yang baginya sebagai simbolik bahwa itu adalah wartawan MY, langsung ke pintu masuk sekretariat Dewan Pers di lantai 8 Gedung Dewan Pers.

Ini sangat jarang terjadi dalam aksi unjuk rasa, dapat membawa perangkat aksi ke dalam gedung setelah masa reformasi tahun 1998. Baginya ini pertanda kemenangan kedaulatan pers dan kekuatan kelompok pers yang independen di Indonesia.

“Kini saatnya kekuatan pers yang sebenarnya bersatu melawan kekuasaan tirani yang sudah masuk ke dalam institusi pers lewat oknum-oknum di Dewan Pers”, tegasnya.

 

Penulis: berkam/manatap/redaksi.

Foto utama: Keranda mayat yang berhasil naik ke lantai 8 Sekretariat Dewan Pers dalam Aksi Solidaritas Wartawan, Rabu, 04 Juli 2018. (ist)

 

Galery foto lainnya: